Fakultas Kedokteran

Universitas Brawijaya
Ditulis pada 31 Agustus 2015 , oleh Editor FKUB , pada kategori Berita

Perlunya perhatian khusus terhadap penderita Reumatoid Arthritis (RA) yang masih belum tersentuh layanan jaminan kesehatan menggugah kepedulian dari Divisi Reumatologi – Imunologi, SMF Ilmu Penyakit Dalam RS Dr. Saiful Anwar (RSSA) –FKUB untuk menyelenggarakan kegiatan seminar awam dengan tema “Mengenal lebih dalam Arthritis Rheumatoid”.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu (29/8) di Ruang Majapahit, lantai 3 RSSA ini menghadirkan 3 pemateri yakni Prof. Dr. dr. Handono Kalim, SpPD-KR,  Prof. Dr. dr. Kusworini, MKes, SpPK dan dr. C. Singgih Wahono, SpPD,KR.

Secara terpisah  Ketua Pelaksana,  Prof. Dr. dr. Handono Kalim, SpPD-KR saat diwawancarai Humas FKUB mengatakan, Penyakit Reumatoid Arthritis (RA) adalah salah satu jenis penyakit autoimun yang menyerang sendi dan struktur disekitar sendi. Penyakit autoimun adalah penyakit dimana sistem kekebalan tubuh (sistem imun) kita menyerang diri kita sendiri dan apabila gejala keradangan pada sendi ini dibiarkan, maka akan mengalami kerusakan sehingga menyebabkan terjadinya kecacatan.

Hal yang perlu diwaspadai apabila seseorang merasakan gejala seperti bengkak  merah dan nyeri pada sendi-sendi seperti tangan, pergelangan tangan, kaki, lutut, siku dan pergelangan kaki apabila gejala tersebut muncul lebih dari 6 minggu maka perlu dicurigai dan segera dikonsultasikan ke dokter.

Selain itu, gejala utama pada RA adalah terutama mengenai seperti ; Nyeri sendi, bengkak sendi, kekauan sendi, kekauan sendi biasanya setelah bangun pagi berlangsung sekitar 30 menit atau lebih, biasanya lebih dari satu sendi yang terkena, pada umumnya sendi pada anggota gerak kiri maupun kanan dan terkadang juga diserta dengan badan yang terasa mudah lelah, penurunan nafsu makan dan terkadang juga badan terasa hangat. Geajala RA juga kadang timbul dan kadang hilang. Apabila kambuh bisa berlangsung beberapa hari sampai beberapa bulan dan harus segera diobati.

Berdasarkan hasil survey di Indonesia sendiri penyakit ini menyerang sekitar 0,5 sampai 1% masyarakat kita. Berarti jumlah masyarakat yang mengalami hal ini berjumlah sekitar 400 ribuan orang, tegasnya.

Guru Besar FKUB Bidang Reumatology ini menambahkan, di Malang telah terdeteksi sekitar kurang lebih ada 200 pasien yang terekap dari catatan rumah sakit dan dokter praktek di Kota Malang. Penyakit ini lebih banyak menyerang wanita dari pada pria  dengan rata-rata usia 40 tahun keatas  dengan perbandingan 3 : 1 sedangkan pada pria kerentanan terserang penyakit ini biasanya pada usia yang lebih tua.

Kegiatan ini merupakan upaya pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan sebagai wujud kepedulian  dari anak-anak didik kita (mahasiswa S1 yang sedang Co Ass dan PPDS) dengan susah payah mereka mempersiapkan kegiatan ini dan berusaha mengumpulkan data pasien secara keliling dari setiap rumah sakit, klinik dan dokter praktek untuk mencari data pasien yang kemudian dihubungi dan diundang pada acara ini.

Peran kita sebagai tenaga medis tentunya sangat dibutuhkan dalam hal pendampingan dan dukungan bagi para penderita yang terserang penyakit yang memang belum diketahui penyebabnya ini sama seperti perhatian kami terhadap penderita Lupus yang sudah tergabung dalam organisasi Parahita.

Akan tetapi kami juga berupaya melalui kegiatan sosial bagi penderita dan keluarganya ini mereka mendapatkan tambahan pengetahuan tentang penyakit RA sekaligus menjadi kader kesehatan terutama bagi penderita RA lainnya.

“Yang paling utama kami juga berharap pemerintah dalam hal ini dapat memperdulikan dan menfasilitasi penderita dengan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan BPJS”, tandasnya.

Senada dengan Prof. Handono Kalim, Prof. Dr. dr. Kusworini, MKes, SpPK juga mendukung sekali upaya menyadarkan measyarakat dan memberikan pemahaman deteksi dini penyakit RA ini.

Ia berharap pemerintah juga menfasilitasi cek laboratorium kedalam layanan jaminan kesehatan  bagi para penderita RA. Karena penyakit ini selain diketahui dari gejala fisik juga dapat didiagnosa melalui tahapan-tahapan cek lab yang ada.

Menurutnya, upaya pencegahan dan deteksi dini dari sebuah penyakit seharusnya kolaborasi dari semua departemen kesehatan yang ada, seperti kami Ilmu Penyakit Dalam bekerjasama dengan bagian Patologi Klinik, Laboratorium Farmakologi, Laboratorium Patologi Klinik, Ilmu Kesehatan Anak, Mahasiswa S1 dan PPDS.

Kami sudah membentuk komunitas pasien Lupus yaitu Parahita, tetapi kami belum membentuk komunitas pasien RA. Oleh karena itu, dalam kegiatan ini kami berupaya mengumpulkan mereka sama seperti penderita Lupus kami akan melakukan pendampingan, sharing pengetahuan dan informasi pencegahan dan penganggulangan penyakit. Bentuk kerjasama dan kepedulian sosial yang berkesinambungan inilah yang menjadikan lulusan UB lebih menonjol dandikenal lebih peduli kepada masyarakatnya, ungkap Guru Besar yang sekaligus istri dari Prof. Handono Kalim ini.

Para penderita tidak perlu khawatir dan jika ingin bergabung dengan kami atau berkonsultasi kami bisa dihubungi di Divisi Reumatologi – Imunologi, SMF Ilmu Penyakit Dalam RSSA dan Poliklinik Reumatologi RSSA (senin, rabu dan jumat) pada pukul 09.00 – 14.00 WIB atau di Klinik Reumatologi dan Alergi Jalan Kawi 31 Malang. (An4nk-HumasFKUB)