Fakultas Kedokteran

Universitas Brawijaya
Ditulis pada 13 Pebruari 2012 , oleh angga , pada kategori Berita

foto_disertasi_miftahuSedikitnya kematian terhadap bayi disebabkan oleh empat penyebab kematian antara lain: 1). neonates yaitu kesulitan bernafas, 2).bayi mengalami penurunan suhu tubuh (hipotermi), 3). bayi lahir premature, 4).dan disusul kematian akibat infeksi, seperti tetanus, diare dan pneumonia. Kematian akibat infeksi menduduki peringkat teratas (42%) dan disusul hypothermia (37 %). Di Inggris pada tahun 1995 angka kematian neonates dengan BBLR sekitar 20%. Sekitar 12% dari bayi di Amerika Serikat (atau lebih dari 8) lahir premature dalam setiap tahunnya. Ditahun 2003, lebih dari 490.000 bayi di US lahir prematu. Makin pendek waktu di dalam kandungan, maka makin besar  resiko komplikasi. Di Indonesia dalam setiap tahun jumlah rata – rata kelahiran 4,6 juta, meninggal karena BBLR sebanyak 100.454 jiwa, meninggal usia 0 – 28 hari (21 %). Dari jumlah ini, sebanyak 67.304 BBLR (67 %) meninggal pada usia 0 – 7 hari.

Merupakan paparan dari presentasi calon kandidat Doktor Dr. Miftahu Soleh, M.Sc, mahasiswa S3 Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Miftahu Soleh yang mengambil minat bidang teknologi kedokteran ini  memaparkan  disertasi dengan judul “Far- Infrared Meregulasi Suhu Tubuh melalui Degranulasi Mastosit Dan Vasodilatasi Pembuluh Darah (Studi Pada Bayi Tikus Wistar)”. Kandidat Doktor ini telah berhasil lulus sebagi Doktor ketika presentasi sebagai promovendus di depan dewan promoter dan tim dosen penguji pada Kamis (9/2) bertempat di Auditorium lantai enam, Gedung Pusat Pendidikan (GPP) FKUB.

foto_miftahu_barengMenurutnya, perbedaan suhu lingkungan bayi dalam kandungan (intrateurin) dengan suhu lingkungan luar kandungan (ekstrateurin) menjadi sebab bayi baru lahir rawan terhadap hiopotermi. Hal ini dapat terjadi  karena evaporasi yaitu menguapnya cairan (air ketuban/air) dari kulit bayi yang basah, karena konduksi, yaitu bayi bersentuhan dengan benda yang lebih dingin atau popok basah), sert konveksi, yaitu jika bayi telanjang terkena aliran udara dingin. Dari sini alumni Magister Tenik Fachhoch Schuule, Jerman ini menjelaskan tujuan umum dalam konteks variabel, gagasan penelitian ini ditujukan untuk mebuktikan bahwa, Far – Infrared (FIR) energi rendah meningkatkan  suhu tubuh internal bayi tikus melalui degranulasi mastosit dan vasidilatasi pembuluh darah mesenterium.
Sedangkan dalam konteks parameter melalui tujuan khusus penelitian ini ditujukan untuk membuktikan bahwa, peningkatan intensitas FIR energy rendah meningktakan aktifitas mastosit, peningkatan aktifitas mastosit meningktakan dilatasi pembuluh darah, pwningkatan dilatasi pembuluh darah meningkatkan suhu tunuh internal bayi tikus, peningkatan intensitas FIR energy rendah meningkatkan dilatasi pembuluh darah, peningkatan intensitas mastosit meningkatkan suhu tubuh internal bayi tikus, peningkatan aktifitas FIR energy rendah meningktakan suhu tubuh internal bayi tikus dan peningkatan FIR energy rendah meningkatkan suhu tubuh bayi  tikus melalui aktifitas mastosit dan atau dilatasi pembuluh darah.

Dari segi manfaat secara teoritik yaitu memberikan informasi tentang pengaruh sinar FIR pada suhu internal tikus melalui degranulasi mastosit dan perubahan vasodilatasi pembuluh darah mesenterium. Disamping itu dari segi manfaat praktis adalah hasil penelitian ini digunakan untuk memberikan infromasi tentang teknologi control system monitoring suhu pada inkubator bayi serta mengembangkan desain pemodelan artificial inteligen inkubatoir bayi dengan metode penghangatan langsung (radiatif) menggunakan sumber penghangat sinar far infrared (FIR) sangat rendah. (Ang)