Fakultas Kedokteran

Universitas Brawijaya
Ditulis pada 4 Januari 2012 , oleh angga , pada kategori Berita

Diabetes Melitus (DM) menjadi salah satu faktor yang berperan terhadap komplikasi mikro dan makrovaskuler, termasuk ulkus diabetes yang dapat menyebabkan mordibitas. Ulkus diabetes terhentinya proses penyembuhan luka akibat terganggunya sejumlah proses termasuk inflamasi, proliferasi sel, migrasi sel,permeabilitas vaskuler dan angiogenesis akibat defisiensi growth factor proangiogenik, deposisi matrik dan remodeling jaringan.

Intervensi terapi yang menargetkan pada sitokin dan growth factor spesifik vital diperkirakan akan meningkatkan penyembuhan luka diabetes. Dengan demikian, dalam penelitian ini Aloe Gel yang merupakan obat herbal dibuat dari lidah buaya yang digunakan secara oral untuk menigkatkan penyembuhan luka. Tujuan dari penelitian ini adalah unutk memeriksa apakah gel Aloe dapat menigkatkan penyembuhan luka diabetes dan mengeksplorasi mekanisme yang terlibat dalam proses tersebut.

Merupakan pemaparan presentasi promosi Doktor dari  hasil penelitian dan ujian disertasi tertutup pada tanggal 13 September 2011 lalu yang dilakukan oleh dr. Adeodatus Yuda Handaya, SpB dengan tema “Peran Aloe Gel Terhadap Ekspresi VEGF Dan ENos Sebagai Aktivator Penyembuhan Luka Melalui Rasio EPC/CEC Pada Diabetes Mellitus” pada Selasa(3/1/12) di Ruang Auditorium Lantai 6 Gedung GPP, FKUB.

Alumni Pendidikan Kedokteran (S1) dan Pendidikan Spesialis Bedah (S2) di Fakultas Ke
dokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini menyatakan,     Aloe gel memiliki efek pemacuan imunitas, menyeimbangkan glukosa darah serta meminimalisasi nyeri. Hanya pada kelompok dengan perlakuan Aloe Gel menunjukan peningkatan diameter arteriolar menuju kondisi normal. Dalam penelitiannya Yuda menngunakan desain eksperimen murni yang dikerjakan di laboratorium secara in vivo dengan menggunakan hewan model  Galur Wistar Rattus norvegicus yang dibagi ke dalam lima kelompok yaitu Kelompok normal control negative (non-diabetes), diabetes control positif dan ditambah kelompok diabetes dengan perlakuan  yaitu kelompok Aloe gel 30 mg/hari, Aloe gel 60 mg/hari dan kelompok Aloe gel 120 mg/hari.

Dokter Spesialis Bedah ini menambahkan, Ada beberapa tahapan dalam penelitiannya yang meliputi pada tahap pertama, memeriksa penyembuhan luka dengan mengamati dan mengukur area luka. Tahap kedua  menentukan ekspresi Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) dan pada Endothel Nitrit Oxide Sythase (eNOS) pada jaringan epitel (stratum basale) secara immunoshitokimia dan tahap ketiga menilai jumlah Endothelial Progenitor Cell (EPC) dan Circulating Endothelial Cell (CEC) serta menghitung rasio EPC/CEC dalam darah dengan menggunakan flow-cytometry, semua dilakukan pada hari 14 setelah pembuatan luka.

Sedangkan parameter yang diamati didasarkan pada beberapa pertimbangan sebagai berikut; Gel lidah buaya telah dikenal untuk memicu ekspresi VEGF. VEGF merupakan molekul utama yang terlibat dalam endotel. Melalui transaktivasi dengan IL-8, VEGF juga dapat berperan eNOS untuk menghasilkan NO yang berperan penting pada Ca-2 sebagai mediator signaling.

Berdasarkan hasil penelitiannya, Yuda menyimpulkan Aloe gel berperan dalam meningkatkan penyembuhan luka dengan merangsang ekspresi VEGF dan e NOS, meningkatkan jumlah EPC dan mengurangi jumlah CEC sehingga dengan demikian akan meningkatkan rasio EPC/CEC. Rasio EPC/CEC menunjukan linear correlation dengan peningkatan penyembuhan luka, maka rasio EPC/CEC dapat diusulkan sebagai indicator prognistik baru untuk memprediksi tingkat penyembuhan luka pada diabetes.
Ujian disertasi Adeodatus Yuda Handaya dipromotori oleh Prof. Dr. dr. H. Djangan Sargowo, SpPD., SpJP (K) (Promotor), Prof. dr. M. Aris Widodo, SpFK., PhD., (Ko Promotor) dan Dra. Diana Lyrawati, M.Si., PhD (Ko Promotor). Sedangkan Majelis penguji yang terlibat adalah Dr. dr. Ketut Muliartha, Sp. PA., Prof. drh. Aulanni’am, DES., Prof. Dr. dr. Askandar Tjtkroprawiro, SpPD.KEMND.FINASIM.

Sidang Ujian Disertasi Terbuka yang dipimpin Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB) Dr. Karyono Mintaroem, SpPA ini memperoleh hasil dengan predikat “sangat memuaskan” dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,73 dengan huruf “A” dengan lama studi empat tahun lima bulan. (Ang)