Fakultas Kedokteran

Universitas Brawijaya
Ditulis pada 16 November 2016 , oleh Editor FKUB , pada kategori Berita

Dr. dr. Loeki Enggar Fitri M.Kes., SpParK secara resmi menyandang gelar sebagai Profesor (Guru Besar) di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB) dalam Bidang Parasitologi. Pengukuhan Guru Besar tersebut di kukuhkan secara resmi oleh Rektor dan Dewan Senat Universitas Brawijaya (UB) pada Selasa (15/11/16) di Gedung Widyaloka UB.

Prof. Loeki dalam Pidato Pengukuhannya mengambil tema,  “Peran Dokter Spesialis Parasitologi Klinik Dalam Pengembangan Diagnosa dan Terapi Malaria di Indonesia”. Yang menjelaskan tentang peran dan fungsi seorang dokter bidang parasitologi klinik terutama dalam bidang penelitian. Dikatakannya menjadi seorang dokter di bidang Parasitologi Klinik tidak hanya dituntut untuk bisa mengobati pasien namun juga  pengembangan penelitian dan pelayanan/ pengabdian kepada masyarakat.

Penelitian Prof. Loeki berfokus pada penyakit Malaria. “Permasalahan yang terjadi pada penyakit malaria tidak boleh diremehkan. Penyakit Malaria menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Perlunya riset disini antara lain untuk mengantisipasi terjadinya re-establishment dari penyakit malaria dan mendukung  program riset operasional malaria untuk mencapai eliminasi malaria secara nasional  ,”kata Wakil Dekan II FKUB ini.

Dipaparkan juga  penelitian penelitian yang telah dilakukan salah satunya  bertujuan menghasilkan produk baru dalam diagnostik dan terapi malaria untuk menanggulangi masalah resistensi obat malaria. Diagnosis malaria harus dilakukan dengan konfirmasi laboratorium mikroskopis atau tes diagnosis cepat (Rapid Diagnostic Test /RDT), namun diagnosis mikroskopis tidak bisa membedakan morfologi beberapa spesies, sehingga pemeriksaan biomolekuler seperti PCR mulai dipertimbangkan karena memberikan hasil yang lebih akurat.

Hasil penelitian Prof. Loeki menunjukkan bahwa sensitivitas nested PCR lebih tinggi dibandingkan hapusan darah.

Loeki mengatakan bahwa obat anti malaria lini pertama saat ini adalah Artemisinin. Beberapa laporan membuktikan adanya penurunan efikasi dari Artemisinin. “Oleh karena itu, diperlukan pengembangan penelitian baru yang akan menghasilkan sebuah produk anti malaria baru yang tidak resisten,”katanya.

Prof. Dr.dr.Loeki Enggar Fitri,M.Kes.SpParK  telah melakukan road map penelitian sejak tahun 1997. Saat ini tim peneliti Parasitologi Klinik FK UB sudah menguji beberapa herbal yang secara empiris telah dipakai sebagai terapi malaria oleh penduduk daerah endemis. Di Papua, misalnya menggunakan buah merah dan tumbuhan tali kuning. Tanaman herbal tersebut saat ini sedang diteliti tim FK UB dan sudah diuji coba secara in vivo pada hewan coba  dan secara in vitro. Selain dua tanaman tersebut, tim juga telah melakukan pengujian terhadap tanaman brotowali serta mikroba bakteri Streptomyces hygroscopicus Hygroscopicus, yang ternyata terbukti mengandung kandungan anti malaria.