Fakultas Kedokteran

Universitas Brawijaya
Ditulis pada 6 Juni 2017 , oleh Editor FKUB , pada kategori Berita

Perkembangan teknologi memang tidak dapat dihindari. Semua berkembang begitu pesat sehingga manusia selalu merasa haus akan informasi. Begitu mudahnya akses informasi yang didapatkan oleh seluruh kalangan masyarakat, mulai dari orang tua, remaja, dan anak usia dini, menjadikan batas yang sangat tipis antara informasi yang layak dan tidak layak dikonsumsi. Bahkan, saking mudahnya akses informasi, tak jarang anak usia dini yang terjerumus kedalam lembah pornografi.

Menurut survey yang dilakukan oleh Statistic by Family Safe Mediaterhadap pengaksesan situs porno,, 4,2 juta situs internet yang mengandung konten pornografi telah terpampang nyata. Yang lebih mencengangkan yaitu setiap harinya terdapat 68 juta permintaan pencarian materi mengenai pornografi melalui mesin pencari di dunia maya. Dari sekian banyak kasus pornografi, hanya secuil yang dapat terlihat oleh mata. Sedangkan kasus yang lainnya, terpendam dalam jauh dari pengetahuan manusia. Kejamnya pengaruh pornografi tidak hanya membuat anak menjadi candu, akan tetapi merusak perkembangan otak yang mengatur tentang perilaku.

Pemerintah Indonesia telah berjuang untuk menangani kasus pornografi, salah satunya dengan dibentuknya peraturan perundangan mengenai pornografi. Sebagian kecil masyarakat juga mulai membentuk gerakan-gerakan anti pornografi karena mengetahui begitu mirisnya kasus pornografi yang telah terjadi. Akan tetapi, dari berbagai upaya yang telah diberikan belum semuanya dapat memberikan manfaat yang berarti bagi tiap-tiap generasi.

Sampai kapankah Indonesia akan selalu dibayangi oleh dunia hitam pornografi?

Sampai kapankah generasinya akan menjadi penonton atas kerusakan moral ini?

KALIGRAFI (Kendali Perilaku Negatif Kasus Pornografi) hadir untuk mengurangi kasus pornografi yang telah menjamur di kalangan masyarakat, khususnya pada anak usia dini. Sebuah tim yang terdiri lima pemuda Universitas Brawijaya memiliki mimpi untuk mencetak generasi Indonesia yang bebas pornografi.

Tim KALIGRAFI memulai perjalanannya dengan menapakkan kaki pada sebuah sekolah dasar yang diinformasikan mengalami permasalahan pornografi. Dengan menggunakan aplikasi berbasis digital yang mudah dimainkan, langkah awal tim dimulai untuk menggali informasi pada anak didik kelas 4 dan 5 untuk mengetahui sejauh mana anak telah terpapar pornografi. Pemberian materi dan latihan terpadu terkait pengendalian kasus pornografi juga diberikan dengan metode fun learning sehingga anak merasa nyaman dan senang untuk berbagi cerita mengenai masalah pornografi.

Selain materi dan latihan terpadu mengenai pormografi, tim KALIGRAFI yang beranggotakan Abdullah Bakhrudinsyah KW, Rafri Dinda Berbudi Mulia, Athifah Rosi Widiyani, Indra Fahrizal, dan Sabil Prihastomo Seputro, juga memfasilitasi anak didik untuk mengembangkan potensi emas yang ada dalam diri mereka. Begitu luar biasanya potensi yang dimiliki anak didik sangat sayang apabila tidak dikembangkan, apalagi terkena pengaruh negatif dari pornografi. Potensi anak didik dikembangkan dan pada akhirnya tim KALIGRAFI bersama pihak sekolah dasar mengadakan sebuah pertunjukan untuk memamerkan potensi anak didik.

Program yang diberikan oleh tim KALIGRAFI merupakan program yang memerlukan sebuah keberlanjutan. Untuk itu, KALIGRAFI berjalan beriringan dengan pihak sekolah dan orang tua untuk memaksimalkan perannya. Dengan sistem kaderisasi, tim berharap kasus pornografi dapat dicegah dan ditangani dengan baik di setiap sekolah. (Tim Kaligrafi for Humas FKUB)