Fakultas Kedokteran

Universitas Brawijaya
Ditulis pada 5 September 2019 , oleh Editor FKUB , pada kategori Berita

Fitoestrogen merupakan salah satu bahan herbal yang memiliki efek terapi pada kondisi kesehatan tertentu namun sampai saat ini bukti-bukti klinis yang kuat secara ilmiah belum konsisten. Fitoestrogen adalah senyawa yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, terutama dari produk polong-polongan (kedelai), gandum, kacang-kacangan, buah-buahan, dan sayur-sayuran. Ada tiga jenis fitoestrogen, yaitu isoflavon (paling kuat), coumestans, dan lignans.

 Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Nurdiana, M.Kes dalam pidato pengukuhannya di gedung Widyaloka pada Rabu (4 / 9/ 19) kemarin mengambil tema : Apakah Fitoestrogen Bermanfaat Bagi Kesehatan?

Menurutnya Fitoestrogen memiliki struktur yang menyerupai estrogen. Maka banyak di kalangan yang umum menggunakan makanan yang mengandung fitoestrogen untuk terapi wanita dengan menopause. Pada wanita menopause dijelaskan  Prof. Nurdiana, jumlah estrogennya menurun, maka fitoestrogen dalam jumlah yang tepat bisa menggantikan estrogen yang turun.

Meskipun pendapat masyarakat umum dan dokter terhadap fitoestrogen sebagian besar positif, fitoestrogen juga diakui sebagai senyawa pengganggu endokrin (Endocrine disruptor). Endocrine disruptors adalah senyawa alami atau sintetis yang dapat mengubah fungsi hormonal dengan berbagai mekanisme, termasuk: 1) stimulasi atau penghambatan langsung sistem endokrin; 2) meniru atau memblokir respons tubuh terhadap hormon steroid endogen; atau 3) mengubah biosintesis, sekresi, transportasi, pengikatan, aksi, degradasi atau penghapusan hormon endogen yang bertanggung jawab untuk pemeliharaan homeostasis, reproduksi dan pengembangan perilaku.

Penelitian efek fitoestrogen menunjukkan hasil pro dan kontra terhadap penyakit yang diderita. Efek menguntungkan antara lain tampak pada obesitas, sindroma metabolik, diabetes tipe 2 dimana terdapat perbaikan resistensi insulin. Efek merugikan fitoestrogen tampak pada sistem reproduksi  hewan coba tikus wistar (Rattus norvegicus) jantan dan betina, berupa gangguan fungsi sistem reproduksi.

Dijelaskan lebih jauh, pada kelompok uji hewan jantan yang diberi fitoestrogen dari sejak lahir dan selama di kandungan induknya, terdapat penurunan jumlah testosteron. Begitu pula pada hewan betina yang mendapat perlakuan yang sama, dinding rahimnya menipis dan terdapat penurunan jumlah folikel.

Nurdiana menyampaikan berdasar penelitian ini, anak-anak yang di usia kecil lebih baik tidak diberi susu kedelai yang belum diolah. “Namun kebanyakan susu kedelai pabrikan mengatakan sudah membuang kandungan fitoestrogennya,” ungkapnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan tasyakuran di gedung Graha Medika Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya yang dihadiri oleh Dekan beserta segenap Wakil Dekan, Para Ketua dan Sekretaris Jurusan, Para Kepala Laboratorium dan Kepala Departemen, Seluruh ketua Program Studi, pejabat Struktural dan segenap tamu undangan .  (An4nk – Humas FK)