Fakultas Kedokteran

Universitas Brawijaya
Ditulis pada 19 Maret 2015 , oleh Editor FKUB , pada kategori Berita

Seringnya bencana nasional melanda Jepang seperti gempa dan tsunami menyebabkan banyak penduduk Jepang mengalami krisis psikologis. Krisis psikologis bisa berkontribusi pada pematangan karakter, namun dalam proses tersebut dapat mengalami kegagalan dan menyebabkan depresi. Oleh karena itu, tim medis khususnya perawat psikiatri di Jepang perlu tanggap dalam hal mengintervensi krisis agar tidak berdampak pada masalah sosial lainnya seperti kasus bunuh diri yang marak terjadi.
Hal tersebut disampaikan Prof. Yuko Shiraishi dari Division of Mental Health and Psychiatric Nursing Faculty of Medicine University of Miyazaki, dalam Kuliah Tamu Psychiatric Nursing dengan topik Crisis Intervention in Japan. Kegiatan ini digelar di Auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) lantai enam, Rabu (18/3).
Dikatakan Shiraishi, perawat psikiatri dapat merespon individu yang mengalami permasalahan atau tekanan menggunakan Aguilera’s problem solving model yaitu dengan tiga faktor penyeimbang. “Tiga faktor tersebut adalah persepsi mengenai kejadian, dukungan situasional, dan mekanisme dalam mengatasi masalah,” ujarnya.
Selanjutnya terdapat empat tahap dalam crisis intervention. Pertama, evaluasi terhadap permasalahan individu, apakah beresiko, jika beresiko perlu dilakukan perawatan psikiatris. Kedua, dilakukan terapi psikiatris. Ketiga, membantu individu dengan pemahaman krisis, dukungan terhadap individu untuk bersikap terbuka dengan perasaannya, mencari cara untuk menerapkan perilaku yang dapat digunakan untuk menghilangkan kecemasan di masa lalu, serta merekomendasikan untuk membangun hubungan baru dengan orang lain. Tahap terakhir, yaitu memperkuat mekanisme penyesuaian yang berguna untuk masa depan. [Irene/An4nk]