Fakultas Kedokteran

Universitas Brawijaya
Ditulis pada 7 Januari 2014 , oleh Editor FKUB , pada kategori Berita

jusuf kallaSeorang Entrepreneur sejati dalam meniti kariernya  harus memiliki 3 aspek penting yakni : Kreativitas, Inovasi dan Komunikasi yang baik. Demikian yang di paparkan oleh Dr. Hc. Drs. H. M. Jusuf Kalla saat memberikan kuliah umum dalam Reuni Nasional Alumni dan Peringatan 40 tahun Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya di Conventions Center Harris Hotel Malang, pada sabtu (4/1).

Jusuf Kalla memberikan kuliah tamu dihadapan ribuan alumni FKUB dari berbagi angkatan  dan pelosok wilayah Nusantara. Kali ini JK (sebutan familiar mantan RI 2) ini berpresentasi dengan materi “Membangun Jiwa Entrepreneurship Pada Pelayanan di Era Globalisasi”. Menurutnya ilmu pengetahuan dan pemahaman masyarakat saat ini sudah semakin maju dan berkembang terutama bidang Ilmu Teknologi Informasi (IT) yang mencapai 100% atau 8 kali lipat hanya dalam waktu per/18 bulan, berbeda dengan Ilmu Kedokteran yang berkembang mencapai 100% dalam kurun waktu 3 tahun. “Artinya para Dokter kalau dalam waktu 3 tahun tersebut tidak belajar mengembangkan ilmunya maka akan tertinggal jauh”, tegas aktivis politik asal Sulawesi tersebut.

Selain itu, Dokter juga harus memahami peran IT utamanya media massa yang saat ini berkembang karena adanya teknologi dan research dan berdampak global. Seperti Televisi contohnya yang menjadi sumber berita terpercaya bagi masyarakat karena tidak adanya batasannya. Kewirausahaan (Entrepreuner) tidak bisa diajarkan saja disekolah ataupun kampus, akan tetapi para pemuda kita harus berorientasi terhadap lingkungan, pengalaman dan belajar dari kesalahan utamanya seorang Dokter.

Lebih jauh Ketua Palang Merah  Indonesia (PMI) ini memberikan contoh kasus dokter obsgyn di Manado yang akhir – akhir ini menghebohkan media massa sehingga aliansi kedokteran turun langsung untuk meluruskan masalah ini, hal ini dimungkinkan kurangnya komunikasi dari dokter tersebut dalam menangani pasien. Untuk itu pelayanan kesehatan di Indonesia memerlukan persaingan serta komunikasi atau pemahaman terhadap masyarakat, yang dimaksud persaingan ini adalah intinya memberikan pelayanan yang lebih baik, lebih cepat dan lebih murah tapi berkualitas. Hal ini akan berpengaruh global dalam hal pelayanan jasa termasuk jasa pelayanan bidang kesehatan.

Kita semua tahu bahwa per tanggal 1 januari 2014 Badan Penyelenggara Jaminan  Sosial (BPJS) sudah mulai diterapkan di negara kita, dengan di pecah menjadi 2 yaitu layanan kesehatan wajib (jasa) dan layanan kesehatan premium (pilihan).

Segala jenis dan bentuk masalah ataupun penolakan dari rakyat pasti akan muncul, tetapi saya harap hal tersebut mampu menjadikan evaluasi dan langkah – langkah lanjutan bagi BPJS kedepan. Akan tetapi saya berharap kebijakan ini dilaksanakan dengan baik oleh para petugas kesehatan utamanya dokter dalam praktiknya, karena keefektifan saudara dalam bekerja melayani masyarakat serta didukung oleh komunikasi yang baik kepada pasien maka dokter – dokter Indonesia mampu menghailkan pelayanan yang baik pula dan membantu upaya pemerintah dalam meningkatkan dan pemerataan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia. (An4nk)