Fakultas Kedokteran

Universitas Brawijaya
Ditulis pada 20 Pebruari 2012 , oleh angga , pada kategori Berita

haedarsKBRN, Jakarta : Ali Haedar, dokter spesialis emergency medicine (kedokteran emergensi) yang memfokuskan dirinya untuk keilmuan dan juga membangun sistem kedokteran emergensi di Indonesia. Pada kesehariannya, beliau bekerja di RSUD Dr Saiful Anwar Malang sebagai dosen dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Umurnya masih sangat muda belum genap 33 tahun dan baru dilantik sebagai dokter spesialis pada tahun 2010, namun aktivitas dirinya dalam penanganan bencana alam yang besar di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini membuat dirinya dikenal dalam bidang kedokteran bencana (disaster medicine).

Ali Haedar beberapa kali mendapatkan penghargaan tingkat dunia, seperti pada 2nd Best Team Presentation pada 1st International Clinical Conference on Emergency Medicine (ICCEM) 2011, di Kuala Lumpur, Malaysia, dan 2nd Place Winner for Creative and Innovative Medical Equipment pada 18th International Symposium on Critical Care and Emergency Medicine di Bali. Dan hal ini pulalah yang telah membawanya dikenal sebagai pembicara internasional dalam hal kedokteran emergensi pada beberapa konferensi kedokteran emergensi di tingkat dunia, seperti yang baru saja beliau lakukan pada International Conference in Emergency Medicine: Challenges in Emergency Medicine di Bangkok, Thailand.

Dokter yang dipanggil dengan nama Haedar ini mengaku dirinya merasa tertantang dan tertarik dengan kedokteran emergensi. “Ilmu ini adalah ilmu baru di Indonesia. Saya pikir ini cabang ilmu kedokteran ini juga sangat menantang untuk dikembangkan, sehingga aku tertarik untuk mendalami ilmu ini. Disamping itu, saya juga tidak bisa bekerja hanya di belakang meja. Setiap pasien yang datang dengan keadaan gawat dengan manifestasi klinik yang berbeda-beda, membutuhkan evaluasi dan tindakan yang tepat dan sangat segera. Apalagi pada keadaan bencana,” kata Ali Haedar ketika dihubungi RRI, Rabu (15/2).

Diakui Haedar, dokter spesialis emergency medicine agak berbeda dengan spesialis lainnya. Dokter spesialis lain bias membuka praktek pribadi, sedangkan dokter spesialis emergency medicine hanya bekerja di Unit Gawat Darurat RS. Jadi jangan mengharap ada plang nama saya di tempat praktekdi poliklinik ya! Hahaha…,” ujar dosen yang mendapat penghargaan sebagai dosen berprestasi dari Universitas Brawijaya Malang pada tahun 2011 ini.

Memang, Indonesia sangat tertinggal di banding negara-negara seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Philipina. Di Negara-negara tersebut, setiap UGD harus ada dokter spesialis emergency medicine yang menangani awal pasien gawat darurat. Jumlahnya di negara-negara tersebut sudah ratusan, sedangkan di Indonesia hanya 22 orang, yang tersebar di beberapa kota seperti Riau, Lampung, Jakarta, Solo, Tulung Agung, Surabaya, Mataram, Sumbawa, dan Soe.

Keberadaan spesialisasi kedokteran emergensi sangat lah penting di UGD rumah sakit. Dokter Haedar yang memperoleh gelar spesialisnya pada tahun 2011 ini mengatakan, “Secara tradisional, kalau ada pasien serangan jantung masuk ke UGD rumah sakit dengan penyulit stroke, darah tinggi, diabetes, dan dalam kondisi yang tidak stabil, pasien tersebut akan ditangani awal oleh dokter umum, lalu dokter umumnya akan menelpon semua spesialis yang ada. Yang sering terjadi adalah keterlambatan penanganan, belum tentu dokternya datang untuk melihat pasien karena masih praktek sampai malam, dan akan banyak tatalaksana yang tidak sesuai, belum lagi uang yang harus dikeluarkan pasien untuk semua konsultasi itu.”

Ia bersyukur dipercaya untuk mewakili Indonesia sebagai board member untuk Asian Emergency Medical Service (EMS) Council, aktif dalam kegiatanInternational Training Consortium on Disaster Risk Reduction yang dimotori oleh WHO Indonesia, dan menjadi pengurus dari Satuan Reaksi Cepat untuk Wilayah Timur Indonesia dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (Syariful/WDA/AKS)