Fakultas Kedokteran

Universitas Brawijaya
Ditulis pada 9 April 2012 , oleh angga , pada kategori Berita

foto_disertasi_niadr. Nia Kania, Sp.PA Kanker paru masih menjadi salah satu kanker yang paling sering ditemukan di dunia dan menduduki peringkat kematian tertinggi pada pria. Dari tahun ke tahun, jumlah kanker paru semakin meningkat di negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang maupun negara berkembang termasuk Indonesia. Meskipun terdapat perkembangan pesat dalam teknik diagnostic dan operasi, kanker paru masih menjadi malignasi yang paling sulit untuk diobati. Di Indonesia, kanker paru menduduki peringkat ketiga atau keempat pada berbagai keganasan di rumah sakit.

Demikian disampaikan dr. Nia Kania, Sp.PA dalam ujian disertasinya yang berjudul “Patogenesa Metaplasia Sel Epitel Bronkiolus Paru Tikus Akibat Paparan Debu Batubara dan Asap Rokok” di Lantai 6 Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB)  Senin (2/4). Lebih lanjut dr. Nia  memaparkan, efek asap rokok sangat kompleks dan mempunyai aktivitas biologis mulai dari metaplasia sampai kanker. Berbeda dengan asap rokok, pada penelitian epidemiologi berkaitan dengan efek batubara ternyata tidak ditemukan peningkatan insidensi kanker paru secara bermakna. Selain itu, efek metaplasia akibat paparan debu batubara juga belum ada laporan.

Meskipun demikian, kerapkali ditemukan adanya kebiasaan merokok pada pekerja atau individu terpapar debu batubara. Interaksi antara paparan debu batubara dengan asap rokok diduga akan mempercepat metaplasia paru melalui mekanisme aktivasi EGFR yang disebabkan oleh inflamasi dan stres oksidatif.

Dalam disertasinya, Nia menggunakan tikus Wistar jantan sebagai sampel penelitiannya. Parameter yang diukur meliputi kadar EGF (ELISA) dan ekspresi EGFR (Confocal Laser Scanning Microscope/CLSM), kadar MDA (kolorimetrik), kadar MUC5AC (ELISA). Dengan pengelompokan penelitian berdasarkan banyak dan lamanya paparan debu batubara dan asap rokok.

Beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dari disertasi Nia adalah : terdapatnya metaplasia epitel bronkhiolus tikus dengan paparan batubara dosis 12,5 dan 25 mg pada 28 hari, terdapatnya perubahan kadar MUC5AC yang bermakna pada dosis 6,25 mg/m3; 12,5 mg/m3; dan 25 mg/m3 paparan 28 hari pada bronkhiolus tikus, terdapatnya perubahan bermakna ekspresi EGF, kadar MDA, ekspresi MUC5AC pada berbagai dosis dan metaplasia pada dosis 25 mg/m3 pada paparan batubara dan asap rokok 21 hari pada tikus, terdapat perubahan bermakna ekspresi EGF, kadar MDA, ekspresi MUC5AC dan healing/remodeling pada bronkhiolus tikus pada penghentian paparan setelah 21 hari.

dr. Nia menyarankan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai kesehatan paru para pekerja tambang batubara,  penelitian pengaruh cuti kerja pada pekerja tambang batubara, penelitian lanjutan analisis efek penghentian paparan pada waktu paparan yang lebih lama (kronik),  penelitian lanjutan untuk menganalisis peranan sel Clara dalam homeostasis, melakukan pemaparan lebih lama untuk mengetahui apakah kerusakan yang terjadi dapat mengakibatkan keadaan pre keganasan-keganasan.

Majelis penguji  yang terlibat dalam disertasiny adalah Prof.Dr.dr. H.M.S. Chandra Kusuma, SpA. (promotor), Prof dr M. Aris Widodo, MS., SpFK.,Ph.D. dan Prof Dr dr Edi Widjadjanto (ko-promotor), Prof.dr, Djoko Wahono S., SpPD. KEMD., Prof. Drs. Sutiman B. Sumitro, SU., D.Sc., dr. Betthy S. Hernowo, Sp. PA(K),. Phd.D.

dr. Nia Kania, Sp.PA(K) lahir di Bandung, 51 tahun silam. Sarjana kedokteran umum (1989) dari Universitas Padjadjaran, spesialisasi patalogi anatomi (1999) dari Universitas Padjadjaran, consultant sitologi (2010) Universitas Indonesia ini, menjabat sebagai Ka. SMF Bag. Patalogi Anatomi RSUD Ulin Bjm, Dosen FK  UNLAM Banjarmasin, Ketua IDI Cab. Banjarmasin, Ketua IAPI Cab. BORNEO, Ketua Tim PKTP Kal-Sel. [Arr/Ang]