Fakultas Kedokteran

Universitas Brawijaya
Ditulis pada 30 Desember 2011 , oleh angga , pada kategori Berita

Penggunaan glukokortikoid (GCs)/kortikosteroid (prednison atau prednisolon) sebagai pengobatan sindrom nefrotik telah dimulai sejak tahun 1956. International Study of Kidney Disease in Children (ISKDC) menetapkan kortikosteroid sebagai pengobatan lini pertama untuk sindrom nefrotik. Sebagian besar sindrom nefrotik idiopatik pada anak merupakan sindrom nefrotik sensitif steroid (SNSS). Pada SNSS proteinuria dapat menurun secara cepat atau menghilang dalam 10-14 hari setelah pemberian terapi dengan steroid. Pengobatan sindrom nefrotik resisten steroid (SNRS) pada anak hasilnya belum memuaskan, proteinuria tetap positif yang dapat menyebabkan hilangnya protein dalam tubuh serta terjadi fibrosis tubulointersisial sebagai faktor patogenik independen, sehingga memperberat penyakit ginjal tersebut. Demikian dikatakan Dr. dr. Krisni Subandiyah, Sp.A(K) dalam ujian terbuka disertasi yang digelar, Rabu (28/12), di Gedung Fakultas Kedokteran (FK) Lantai 6 Universitas Brawijaya (UB).

Disertasi Krisni berjudul “Ekspresi Gen Reseptor Glukokortikoid-a (GR-a) dan GR-ß Melalui Ekspresi Gen p65 NF-KB dan AP-1 pada Sindrom Nefrotik Resisten Steroid”. Dari hasil penelitian yang telah diketemukan, disertai dengan hasil uji statistik dan kajian teoritis sehingga pada penelitian ini terbukti adanya temuan baru yaitu adanya peningkatan ekspresi gen GR-ß yang dipengaruhi secara langsung oleh penurunan level ekspresi gen GR-a dan penurunan ekspresi gen GR-a dipengaruhi secara langsung oleh peningkatan ekspresi gen GR-ß. Namun, tidak melalui ekspresi gen p65 NF-KB dan AP-1pada SNRS.

Dari hasil penelitiannya, Krisni menyarankan perlu dilakukan penelitian tentang perbedaan ekspresi gen GR-ß, GR-a, sub unit p65 NF-KB dan AP-1 pada sindrom nefrotik idiopatik dengan metode penelitian kohort dimana sampel penelitian diambil saat pasien didiagnosis sebagai sindrom nefrotik sebelum mendapatkan kortikosteroid. Selain itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang peran enzim Jun kinase, gen c-fos dan c-jun pada SNRS, peran I- KB pada SNRS, peran terapi anti GR-ß, anti NF-KB dan anti AP-1 pada sindrom nefrotik resisten steroid.

Wanita kelahiran Surabaya 19 Juli 1964 ini lulus S1 dan Pendidikan Dokter Spesialis Anak di FK Unair, serta Konsultan Nefrologi Anak dari Kolegium Ilmu Kesehatan Anak Indonesia. Istri dari dr. Edi Handoko, Sp.THT-KL(K) ini dikaruniai seorang putra yaitu Rizki Ekaputra Handoko, S.Ked. Majelis penguji terdiri dari Prof.Dr.dr. HMS Chandra Kusuma, Sp.A(K) (promotor), Dr.dr. Loeki Enggar Fitri, MKes,SpParK, Dr.dr. Setyawati Karyono, MKes, Prof.dr. M Syaifullah Noer., Sp.A(K), Prof.Dr.dr. Teguh Wahyu Sardjono, DTM&H.,M.Sc.,SpParK, dan Prof.Dr.drh. Aulanni’am,DES. Setelah berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan majelis penguji, Krisni berhak meraih gelar doktor ilmu kedokteran minat biomedik dengan IPK 4,00, predikat cumlaude dan masa studi tiga tahun empat bulan. [mit-Hms.UB / Ang]