Fakultas Kedokteran

Universitas Brawijaya
Ditulis pada 27 Pebruari 2012 , oleh angga , pada kategori Berita

foto_disertasi_arieDua gejala utama penderita hemiparase pasca stroke adalah gangguan berjalan dan ketidakseimbangan tubuh yang keduanya memiliki dampak negatif pada aktivitas hidup sehari-hari. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa pelatihan mengayuh pada pasien Multiple Sclerosis (MS) dapat meningkatkan kapasitas aerobik, kapsitas fungsional, kekuatan isometrik dan faktor psikologis, serta mengurangi kelelahan. Rangsangan Listrik Fungsional (RLF) melalui bersepeda, sejauh ini telah berhasil diterapkan untuk penderita cedera sumsum tulang belakang lengkap, untuk memperkuat otot dan untuk merangsang sistem kardiovaskular, namun belum dilakukan pada penderita pasca stroke. Hal tersebut menjadi latar belakang disertasi Arie Eric Rawung yang berjudul “Pengaruh Variasi Frekuensi Rangsangan Listrik Fungsional Terhadap Peningkatan Kekuatan dan Keserasian Gerakan Kaki Mengayuh pada Penderita Hemiparese”. Ujian terbuka disertasi ini digelar Kamis (23/2), di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Brawijaya (UB).

Arie mengatakan rehabilitasi kelemahan fungsi otot kaki pada penderita hemiparese pada beberapa rumah sakit di Indonesia masih dilakukan secara frakmental dan parsial. Namun metode-metode terapi parsial yang dipergunakan untuk memulihkan fisiologik penderita pasca stroke belum memberikan perbaikan secara maksimal terhadap kekuatan, kecepatan, kapasitas aerobik dan keserasian koordinasi otot-otot kaki untuk berjalan. Penderita hemiparese membutuhkan peralatan terapi yang cerdas melalui sepeda RLF yang dapat mengintegrasikan beberapa fungsi peralatan parsial secara nyaman dan aman dan prosedur pemakaiannya tidak merepotkan penderita. Namun peralatan terapi yang memiliki fungsi terapi rangsangan listrik yang terintegrasi masih sangat jarang ditemui dan mahal harganya. Oleh sebab itu diperlukan penelitian untuk membuat suatu peralatan terapi dinamis yang cerdas, yang memiliki ketepatan putaran motor untuk membantu gerakan kaki, pola dan ketepatan sudut penyulutan rangsangan listrik fungsional untuk meningkatkan kekuatan dan keserasian kaki mengayuh.

Pada penelitian ini dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama adalah jenis penelitian eksperimental untuk pembuatan alat dengan parameter pengamatannya adalah pola rangsangan listrik fungsional (Hz) dan sudut penyulutan rangsangan (derajat). Tahap kedua adalah jenis penelitian dengan desain post test only control group (serial) untuk pengujian alat. Penelitian secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa sepeda RLF adalah peralatan yang cocok dan cerdas untuk rehabilitasi kelemahan otot-otot hemiparase pasca stroke dengan baik dan aman, dimana koordinasi kinerja fungsi kecepatan putaran pedal, pola rangsangan listrik, sudut penyulutan dan posisi geometri tubuh akan menggantikan peran kecerdasan otak penderita yang hilang. Selain itu terdapat pengaruh rangsangan listrik fungsional terhadap peningkatan kekuatan dan keserasian kaki mengayuh pada penderita hemiparese karena peran kecerdasan tiruan sepeda RLF sebagai pengganti peran otak pada orang sehat.

Arie Eric Rawung menyelesaikan pendidikan sarjananya di jurusan Elektro FPTK IKIP Yogyakarta pada tahun 1983 dan S2 di Elektro FTI ITS Surabaya pada tahun 2002. Ia telah menghasilkan beberapa tulisan ilmiah, salah satunya “Effect of Functional Electrical Stimulation Frequency Variation for Improved Harmony Movement of the Foot Pedal Hemiparese Patients, testing Using a Bicycle”.
Majelis penguji yang terlibat dalam disertasi ini adalah Prof. Ir. ING. Wardhana, M.Eng., Ph.D (Promotor), Prof. Dr. dr. Handono Kalim, SpPD.,KR (Ko-Promotor), Prof. Dr. dr. Noorhamdani, SpMK (Ko-Promotor), Prof. Dr. dr. M Mulyohadi Ali (Ko-Promotor), Prof. dr. Edi Widjajanto, MS., SpPK (K), Dr. drg. Nur Permatasari, MS., Prof. dr. M. Aris Widodo, MS Ph.D, dan dr. Ir. Mochammad Rameli. Setelah mempertahankan disertasinya di hadapan majelis penguji, Arie berhak mendapat gelar Doktor Ilmu Kedokteran Minat Biomedik dengan IPK 3,91, predikat sangat memuaskan dalam masa studi lima tahun enam bulan. [mit/ang]