Fakultas Kedokteran

Universitas Brawijaya
Ditulis pada 13 April 2012 , oleh angga , pada kategori Berita

foto_yudisiumsked_209Kamis (29/3), sebanyak 209 mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) mengikuti yudisium dan diambil sumpahnya sebagai dokter muda. Yudisium sarjana kedokteran dan pengambilan janji dokter muda yang dipusatkan di Gedung Graha Medika ini, dihadiri oleh Pembantu Dekan I, Plt. Pendidikan Dokter, Kepala Laboratorium dan Penanggung Jawab Mata Kuliah (PJMK) serta para Kasubbag di lingkup FK UB.

Dalam laporannya, Dr. Dra. Sri Winarsih, Apt., MSi., selaku Plt. Pendidikan Dokter FK UB menyampaikan, mahasiswa yang diyudisium kali ini terdiri dari mahasiswa angkatan 2006 sebanyak satu orang dan angkatan 2008 (peserta KBK 2) sebanyak 208 orang. Dari jumlah keseluruhan, ada 45 mahasiswa atau lebih dari 21 persen yang meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dengan predikat Cumlaude. Dari ke 45 peraih IPK cumlaude ini, seorang mahasiswa dari angkatan 2008 berhasil meraih IPK tertinggi dengan jumlah 3,90 atas nama Stefani Kuswianto.

Sementara itu, Wakil Direktur Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar (RSSA) drg. Laruskana menyampaikan ucapan selamat kepada para dokter muda yang siap terjun ke arena rumah sakit pendidikan. Menurutnya, RSSA sebagai rumah sakit yang menjadi lahan pendidikan bagi para dokter baru ini meskipun telah menjadi Rumah Sakit yang berstatus A dan telah meraih ISO serta telah memiliki 16 Akreditrasi Pelayanan Prima. “Namun RSSA masih terus menerus berupaya untuk memberlakukan kerjasama dalam memperbaiki pelayanan bagi masyarakat,” ujarnya. Bentuk pelayanan bagi masyarakat yang telah dijalankan oleh pihak yang terlibat dalam pelayanan rumah sakit ini meliputi para dokter, karyawan, perawat, mahasiswa praktek dan seluruh staf pendukung didalamnya.

Pembantu Dekan I FKUB Dr. dr. Sri Andarini, MKes., menambahkan, seorang dokter harus mementingkan kepentingan orang lain diatas kepentingan pribadi. “Sebagai seorang dokter saudara harus mempunyai sikap humanis dalam menjalankan praktek di rumah sakit jejaring. Dalam pelaksanaannya, bekal ilmu yang telah saudara dapatkan selama belajar di FKUB ini harus diterapkan di Rumah Sakit. Jangan sampai saat pendidikan mendapatkan tujuh langkah direduksi menjadi empat atau lima langkah. Selama berada di rumah sakit saudara akan mendapatkan bimbingan dari para dokter spesialis yang mempunyai privat yang fokus,” jelasnya.

Andarini juga mengajak para dokter untuk senantiasa memanfaatkan kesempatan yg diberikan. Misalnya ketika memasuki masa internsif. “Perlu diingat, saudara tidak boleh melakukan tindakan-tindakan intervensi secara sendiri, tanpa bimbingan dari para pendamping dan bimbingan fasilitator. Saudara nanti akan menjadi dokter profesional. Janji dokter perlu direnungkan sebagai upaya pemahaman yang berkaitan dengan pasien dan keluarga pasien,” harapnya. Andarini juga mengharapkan, para sarjana kedokteran baru kali ini lulus pada Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) di tahun mendatang dan dari 209 ini akan lulus secara bersamaan.[ang]